Tujuh Orang Tewas dalam Gelombang Demonstrasi 28–31 Agustus di Sejumlah Kota

Jakarta – Gelombang demonstrasi besar melanda Indonesia sejak 28 hingga 31 Agustus 2025. Aksi yang dipicu protes terhadap kebijakan tunjangan perumahan DPR sebesar Rp50 juta per bulan itu berakhir ricuh di sejumlah kota dan menelan sedikitnya tujuh korban jiwa.

Bentrok antara massa dan aparat terjadi di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, Solo, Palembang, Banjarmasin, Gorontalo, hingga Medan. Di Makassar, massa membakar gedung DPRD, sementara di Solo dan Surabaya kericuhan dipicu penggunaan gas air mata. Beberapa daerah lain juga mengalami penjarahan dan perusakan fasilitas publik.

Kronologi Aksi

Demonstrasi awalnya berlangsung damai pada 28 Agustus di Jakarta. Ribuan mahasiswa, buruh, hingga pengemudi ojek online berkumpul menolak kebijakan DPR yang dinilai mencederai rasa keadilan masyarakat. Namun, situasi berubah ricuh ketika massa memaksa masuk ke kawasan parlemen dan aparat menembakkan gas air mata.

Pada 29 Agustus, kerusuhan meluas ke berbagai kota. Di Makassar, massa membakar gedung DPRD hingga menewaskan tiga orang pegawai yang terjebak. Sementara di Solo, seorang tukang becak meninggal akibat serangan asma setelah terpapar gas air mata.

Ricuh juga terjadi di Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta. Pada 31 Agustus, bentrokan di depan Polda DIY berujung pada kematian seorang mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta.

Daftar Korban Jiwa

Berdasarkan data yang dihimpun, tujuh orang dinyatakan meninggal dunia selama rentang empat hari aksi. Mereka adalah:

  • Affan Kurniawan (21), pengemudi ojek online yang tewas terlindas kendaraan Brimob di Jakarta.

  • Muhammad Akbar Basri (±26), fotografer humas DPRD Makassar, meninggal dalam kebakaran gedung DPRD.

  • Sarinawati (±25–26), staf DPRD Makassar, terjebak dalam kebakaran.

  • Syaiful Akbar (43), pejabat Pemkot Makassar, meninggal setelah melompat dari gedung DPRD yang terbakar.

  • Rusdamdiansyah (±25–26), ojek online, tewas dikeroyok massa di Makassar, yang di anggap adalah Intel yang sedang menyamar.

  • Sumari (60), tukang becak di Solo, meninggal akibat serangan asma setelah terkena gas air mata.

  • Rheza Sendy Pratama (21), mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, tewas dalam ricuh di depan Polda DIY.

Selain korban meninggal, organisasi hak asasi manusia mencatat lebih dari 20 orang masih hilang. Polisi menyebut sekitar 950 orang telah diamankan di Jakarta dan sejumlah kota lain.

Respons Pemerintah dan Internasional

 

Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah akan mengusut tuntas kasus ini, termasuk dugaan keterlibatan aparat dalam kematian demonstran. “Saya sudah memerintahkan penyelidikan menyeluruh dan meminta aparat bertindak profesional,” ujarnya di Istana, Minggu (31/8).

Polri mengonfirmasi ada tujuh anggota Brimob yang sedang diperiksa terkait kasus kematian Affan Kurniawan. Sementara itu, DPR menyebut akan mengevaluasi kembali kebijakan tunjangan yang menjadi pemicu aksi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ikut menyoroti peristiwa ini. Juru bicara PBB menyerukan investigasi independen atas dugaan pelanggaran HAM dan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat.

Suara Masyarakat Sipil

Gambar WhatsApp 2025-09-02 pukul 13.52.03_f6890153

Sejumlah organisasi masyarakat sipil mengecam tindakan represif aparat. KontraS menilai pola kekerasan yang terjadi menunjukkan lemahnya perlindungan terhadap kebebasan berekspresi. “Negara tidak boleh membungkam suara rakyat dengan kekerasan,” ujar Koordinator KontraS dalam keterangannya.

Di sisi lain, keluarga korban mendesak pemerintah bertanggung jawab. Kerabat Affan Kurniawan menyatakan akan menempuh jalur hukum untuk menuntut keadilan atas kematian putra mereka.

Gelombang demonstrasi ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Dari Jakarta hingga Makassar, suara rakyat yang menolak kebijakan dinilai mewah bagi pejabat berujung pada tragedi berdarah. Peristiwa ini menyisakan luka mendalam sekaligus menjadi catatan penting bagi perjalanan demokrasi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Yapis Al-Oesmaniyyah PTDI © All rights reserved